Puluhan Negara Antre Utang ke Bank Dunia Saat RI Menolak Mentah-mentah
25/05/2026 09:00
Puluhan negara mulai antre untuk mendapatkan akses dana pinjaman dari Bank Dunia (World Bank). Sekitar 27 negara berencana menerapkan instrumen krisis untuk mengakses pendanaan tersebut.
Hal ini diketahui dari dokumen internal yang beredar dan diberitakan oleh Reuters, dikutip Minggu (24/5/2026). Dokumen Bank Dunia tersebut tidak menyebutkan nama negara atau jumlah total dana yang berpotensi dicari. Sementara, Bank Dunia masih menolak berkomentar.
Yang jelas dari dokumen tersebut, disebutkan sudah ada tiga negara telah menyetujui instrumen krisis baru sejak konflik Timur Tengah terjadi pada 28 Februari 2026 silam. Sementara negara yang lain masih menyelesaikan prosesnya.
Perang dan dampaknya terhadap pasar energi telah menghantam rantai pasok global. Hal ini membuat banyak negara kesulitan, khususnya beberapa negara berkembang di Afrika. Dilaporkan juga beberapa pejabat di Kenya dan Irak telah mengkonfirmasi mereka memang mencari dukungan keuangan cepat dari Bank Dunia.
Dana darurat krisis diajukan untuk mengatasi dampak perang seperti melonjaknya harga bahan bakar di Kenya dan penurunan pendapatan ekspor minyak imbas rantai pasok terganggu bagi Irak.
Presiden Bank Dunia Ajay Banga bulan lalu mengatakan pihaknya sudah menyiapkan perangkat krisis yang memungkinkan banyak negara untuk memanfaatkan pembiayaan sekitar US$ 20-25 miliar.
Bank Dunia juga dapat mengorientasikan kembali sebagian portofolionya untuk meningkatkan total dana bantuan menjadi US$ 60 miliar selama enam bulan, dengan perubahan jangka panjang lebih lanjut yang mungkin dilakukan untuk meningkatkan total menjadi sekitar US$ 100 miliar.
Saat negara lain antre untuk dapat pinjaman, Indonesia telah menyatakan menolak untuk mencari pinjaman. Tawaran utang untuk mengantisipasi dampak perang, ternyata sudah masuk ke pemerintah, namun ditolak mentah-mentah.
Tawaran itu mulanya didapatkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat melakukan kunjungan ke Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada 13...
🔗 Baca di sumber asli
← Kembali ke Beranda